SELAMAT DATANG DI WWW.MGMPMAPO.BLOGSPOT.COM

Kamis, 29 Desember 2011

Guru Kunci Utama Atasi Fobia Matematika

Dituliskan kembali oleh : Suwardi, S.Pd
Munculnya anggapan siswa dan masyarakat bahwa pelajaran Matematika sulit bahkan menjadi fobia, lebih disebabkan pola pengajaran yang lebih menekankan pada hafalan dan kecepatan berhitung. Guru sebagai penyampai ilmu harus mampu mengajarkan Matematika lebih menarik dan mengembangkan daya nalar siswa.Demikian dikatakan Dr Iwan Pranoto, pemerhati pendidikan Matematika dan dosen pada Departemen Matematika Institut Teknologi Bandung, dalam Semiloka Mengatasi Fobia Matematika pada Anak di Bandung, Sabtu (14/8). Menurut dia, selain kurang bervariasinya pola pengajaran yang ada, ketakutan anak pada Matematika juga disebabkan oleh pola pengajaran guru yang otoriter yang menganggap siswa yang banyak bertanya sebagai hal yang kurang ajar. Siswa harus patuh dengan apa yang diterangkan guru. “Matematika itu tidak sulit. Masalahnya, banyak orang tidak dapat bermatematika secara optimum gara-gara takut terhadap matematika. Ketakutan tersebut membuat mereka enggan belajar bahkan menjadi antipati,” kata Iwan. Iwan mengatakan, pada dasarnya kemampuan manusia untuk memahami matematika sama, tetapi kecepatannya berbeda.

Selasa, 29 November 2011

OUTDOOR MATHEMATIC

Matematika Luar Kelas (Outdoor Mathematics)

Outdoor Matematik adalah pembelajaran matematika yang dilakukan diluar kelas, dengan memanfaatkan lingkungan luar kelas sebagai sumber belajar. pembelajaran matematika luar kelas, sebaiknya dilakukan secara berkelompok(coorperative). agar memudahkan guru dalam melakukan kontrol terhadap kelancaran belajar dan kemudahan siswa dalam menerima apa yang disampaikan oleh guru.

adapun Langkah-langkah pembelajaran Matematika luar kelas (Outdoor Mathematics) yaitu :

  1. Kegiatan awal adalah membentuk kelompok (cooperative learning).
  2. Merancang aktivitas kelompok (dilaksanakan satu atau dua kali pertemuan ).
  3. Merancang kegiatan pendahuluan yang terdiri dari menyebutkan tujuan pembelajaran, menyebutkan manfaat apa yang dipelajari dan menentukan tugas masing-masing kelompok.
  4. Merancang kegiatan pengembangan meliputi siswa secara berkelompok melaksanakan tugas yang diberikan, guru membimbing dan memotivasi siswa dalam setiap kelompok, siswa bersama guru membahas hasil kerja kelompok dan diakhir pembelajaran guru memberikan penguatan secara klasikal.
  5. Merancang kegiatan penerapan yang merupakan tahap evaluasi bagi siswa, karena siswa mengerjakan soal secara individu.
  6. Tahap penutup, Secara klasikal guru menekankan materi-materi penting yang baru dipelajari siswadan memberikan pekerjaan rumah(PR) kepada siswa.

Jumat, 11 November 2011

AGENDA



Tanggal 11 Nopember s/d 15 Nopember saya dan p. Hadak BIMTEK REMEDIAL di Hotel OVAL, Jl. Diponegoro 23 Surabaya.
Judul Keren tapi isi " wah jadul " men. Back to CBSA Catat buku sampai Abis. Jangan kaget dulu ....
Dekade sembilan puluhan teknologi informasi berkembang pesat merasuk segala bidang tk terkecuali pendidikan. Semua kegiatan diarahkan untuk memanfaatkan teknoli tersebut. Administrasi sangat tervbantu, mengajar terbantu, anak terbantu. Anak begitu mudah untuk memperoleh materi pelajaran tanpa bersusah payah menulis. Cukup "copi and paste". Sekian detik materi yag teridiri dari ribuan kata siap di tangan. Meningkatkah nilai anak? Baguskah prestasi anak? . " Oh no". Jangankan bagus untuk memperoleh predikat KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) tercapai saja susah. Perlu bantuan "pihak ketiga" untuk mencapai KKM.
What's wrong?
Ditengarai karena anak tidak punya simpanan memori pengetahuan di otaknya. Metode belajarnya hanya menghapal sehingga tidak cukup mampu otaknya menampung semua informasi pengetahuan untuk mendukung pencapaian prestasi.
Jika anak belajar untuk menyimpan pengetahuan dalam otaknya maka ketika pengetahuan itu diperlukan tinggal memanggil kembali. Otak dapat menyimpan berapapun pengetahuan yang ingin di kuasai. Nah metode menulis dan membaca ini adalah untuk menyimpan pengetahuan dalam otak dan bukan menghapal. Tulis dan baca berulang-ulang.
Metode ini berhasil dengan ketentuan pada saat menulis konsentrasi penuh dan tidak nyambi lain-lain misal smsan (satu kegiatan rutin anak sekolah sekarang). Selanjutnya membacanya juga harus serius dan tidak nyambi.
Nah Lu ........................
Bisakah anak kita?

Mengenal media pembelajaran

MENGENAL MEDIA PEMBELAJARAN


A. LATAR BELAKANG

Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Pemanfaatan media seharusnya merupakan bagian yang harus mendapat perhatian guru / fasilitator dalam setiap kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu guru / fasilitator perlu mempelajari bagaimana menetapkan media pembelajaran agar dapat mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar.

Pada kenyataannya media pembelajaran masih sering terabaikan dengan berbagai alasan, antara lain: terbatasnya waktu untuk membuat persiapan mengajar, sulit mencari media yang tepat, tidak tersedianya biaya, dan lain-lain. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika setiap guru / fasilitator telah mempunyai pengetahuan dan ketrampilan mengenai media pembelajaran.

B. PERMASALAHAN

1. Apakah media pembelajaran?

2. Bagaimana manfaat media pembelajaran?

C. PEMBAHASAN

1. Arti media pembelajaran

Istilah media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari medium. Secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Pengertian umumnya adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi.

Media menurut AECT adalah segala sesuatu yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan. Sedangkan gagne mengartikan media sebagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang mereka untuk belajar. Briggs mengartikan media sebagai alat untuk memberikan perangsang bagi siswa agar terjadi proses belajar

Istilah pembelajaran lebih menggambarkan usaha guru untuk membuat belajar para siswanya. Kegiatan pembelajaran tidak akan berarti jika tidak menghasilkan kegiatan belajar pada para siswanya. Kegiatan belajar hanya akan berhasil jika si belajar secara aktif mengalami sendiri proses belajar. Seorang guru tidak dapat mewakili belajar siswanya. Seorang siswa belum dapat dikatakan telah belajar hanya karena ia sedang berada dalam satu ruangan dengan guru yang sedang mengajar.

Pekerjaan mengajar tidak selalu harus diartikan sebagai kegiatan menyajikan materi pelajaran. Meskipun penyajian materi pelajaran memang merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran, tetapi bukanlah satu-satunya. Masih banyak cara lain yang dapat dilakukan guru untuk membuat siswa belajar. Peran yang seharusnya dilakukan guru adalah mengusahakan agar setiap siswa dapat berinteraksi secara aktif dengan berbagai sumber balajar yang ada.

Media pembelajaran adalah media yang digunakan dalam pembelajaran, yaitu meliputi alat bantu guru dalam mengajar serta sarana pembawa pesan dari sumber belajar ke penerima pesan belajar (siswa). Sebagai penyaji dan penyalur pesan, media belajar dalam hal-hal tertentu bisa mewakili guru menyajiakan informasi belajar kepada siswa. Jika program media itu didesain dan dikembangkan secara baik, maka fungsi itu akan dapat diperankan oleh media meskipun tanpa keberadaan guru.

Peranan media yang semakin meningkat sering menimbulkan kekhawatiran pada guru. Namun sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi, masih banyak tugas guru yang lain seperti: memberikan perhatian dan bimbingan secara individual kepada siswa yang selama ini kurang mendapat perhatian. Kondisi ini akan teus terjadi selama guru menganggap dirinya merupakan sumber belajar satu-satunya bagi siswa. Jika guru memanfaatkan berbagai media pembelajaran secara baik, guru dapat berbagi peran dengan media. Peran guru akan lebih mengarah sebagai manajer pembelajaran dan bertanggung jawab menciptakan kondisi sedemikian rupa agar siswa dapat belajar. Untuk itu guru lebih berfubgsi sebagai penasehat, pembimbing, motivator dan fasilitator dalam Kegiatan Belajar mengajar.

2. Manfaat media pembelajaran

Secara umum manfaat media pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran lebih afektif dan efisien. Sedangkan secara lebih khusus manfaat media pembelajaran adalah:

1. Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan

Dengan bantuan media pembelajaran, penafsiran yang berbeda antar guru dapat dihindari dan dapat mengurangi terjadinya kesenjangan informasi diantara siswa dimanapun berada.

2. Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik

Media dapat menampilkan informasi melalui suara, gambar, gerakan dan warna, baik secara alami maupun manipulasi, sehingga membantu guru untuk menciptakan suasana belajar menjadi lebih hidup, tidak monoton dan tidak membosankan.

3. Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif

Dengan media akan terjadinya komukasi dua arah secara aktif, sedangkan tanpa media guru cenderung bicara satu arah.

4. Efisiensi dalam waktu dan tenaga

Dengan media tujuan belajar akan lebih mudah tercapai secara maksimal dengan waktu dan tenaga seminimal mungkin. Guru tidak harus menjelaskan materi ajaran secara berulang-ulang, sebab dengan sekali sajian menggunakan media, siswa akan lebih mudah memahami pelajaran.

5. Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa

Media pembelajaran dapat membantu siswa menyerap materi belajar lebih mandalam dan utuh. Bila dengan mendengar informasi verbal dari guru saja, siswa kurang memahami pelajaran, tetapi jika diperkaya dengan kegiatan melihat, menyentuh, merasakan dan mengalami sendiri melalui media pemahaman siswa akan lebih baik.

6. Media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja

Media pembelajaran dapat dirangsang sedemikian rupa sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar dengan lebih leluasa dimanapun dan kapanpun tanpa tergantung seorang guru.Perlu kita sadari waktu belajar di sekolah sangat terbatas dan waktu terbanyak justru di luar lingkungan sekolah.

7. Media dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar

Proses pembelajaran menjadi lebih menarik sehingga mendorong siswa untuk mencintai ilmu pengetahuan dan gemar mencari sendiri sumber-sumber ilmu pengetahuan.

8. Mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif

Guru dapat berbagi peran dengan media sehingga banyak mamiliki waktu untuk memberi perhatian pada aspek-aspek edukatif lainnya, seperti membantu kesulitan belajar siswa, pembentukan kepribadian, memotivasi belajar, dan lain-lain

D. KESIMPULAN

Media adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi. Sedangkan pembelajaran adalah usaha guru untuk menjadikan siswa melakukan kegiatan belajar. Dengan demikian media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan informasi dari guru ke siswa sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa dan pada akhirnya dapat menjadikan siswa melakukan kegiatan belajar. Manfaat media pembelajaran tersebut adalah: penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan, proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik, proses pembelajaran menjadi lebih interaktif, efisiensi dalam waktu dan tenaga, meningkatkan kualitas hasil belajar siswa, memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja, menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar serta mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif.

Pembelajaran Berbasis Otak kanan


Pembelajaran Berbasis Otak Kanan

Oleh : Imam Suhadak*)

Sayid Kutub dalam majalah Al-Risalah edisi ke 995 th. 1955 mengungkapkan bahwa “Sesunggunya aku meyakini akan kekuatan ilmu pengetahuan. Dan aku meyakini pula kekuatan hasil kebudayaan. Namun aku juga lebih yakin akan kekuatan buah pendidikan.”

Pendapat tersebut menggambarkan pentingnya proses pendidikan dalam kehidupan manusia. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu elemen dasar dari proses pendidikan. Untuk itu harus direncanakan secara sistematis dan aplikatif. Jika bicara tentang pembelajaran, maka tidak bisa dilepaskan dari peran dan fungsi guru. Pembelajaran yang bermutu dapat terwujud manakala guru mempunyai sejumlah kompetensi. Pendek kata proses pembelajaran adalah kemampuan guru dalam memberdayakan segala elemen yang dapat mempengaruhi perubahan perilaku pembelajar.

Pada kenyataannya pembelajar memiliki pengalaman belajar yang tidak selalu menyenangkan dan menarik. Banyak keluhan, antara lain materinya membosankan, kering, dan pembelajaran hanya di belakang meja, kaku, monoton dan sangat formal. Hal ini bermuara pada sikap dan hasil belajar yang rendah. Bagaimana merancang pembelajaran yang menarik? Ini berkaitan dengan pendekatan atau strategi pembelajaran. Kalau saat ini pembelajar lebih banyak menggunakan belahan otak kiri, apa jadinya kalau mereka memakai kedua belahan otak itu sekaligus? Secara teoritis pembelajar akan memiliki kekuatan otak yang ganda, karena memakai semua kapasitas otak yang dimilikinya.

Proses pembelajaran secara berlatih (drill), mengulang-ulang (repetisi), dan ujian dengan waktu yang terbatas, hanya cocok untuk individu dengan otak kiri. Karena pola belajar pada otak kanan adalah visual, maka ilustrasikan konsep matematika secara visual, semisal menghitung uang, menggunakan sempoa, mendemontrasikan bangun ruang. Kekuatan individu ini terdapat pada intuisi matematika, sedangkan perhitungan aritmatika yang sederhana merupakan sisi kelemahannya. Proses pembelajaran dengan menarik minat mereka melalui konsep matematika yang kompleks misalnya bilangan negatif, kuadrat, akar, sebelum akhirnya diperkenalkan pada konsep dasar yaitu penjumlahan, pembagian sederhana, dan perkalian. Kegiatan tersebut dapat berupa menghitung volume air yang ada di botol, mengetahui berapa lama kereta api dapat menempuh jarak Surabaya-Jakarta bila kecepatannya tertentu, kegiatan jual-beli dengan mengajarkan konsep harga satuan, diskon, pengurangan, penjumlahan, pembagian dan perkalian. Setelah dapat memahami proses perhitungan sederhana dan persamaan, dengan mudah akan dapat memahami sesuatu yang lebih abstrak dan konsep yang sulit (misalnya geometri, kalkulus). Proses berpikirnya visual; hindari anak disuruh menulis, tidak perlu menghitung dengan jari, dalam suasana relax, tidak ada tekanan karena pembatasan waktu, lakukan latihan mental matematika yang melibatkan keberuntunan secara auditori dan konsep matematika. Dengan cara ini akan memotong daerah kelemahan anak (proses dengar) dan merubahnya menjadi kekuatan menggunakan kemampuan visualnya. Latihan mental matematika ini juga memanfaatkan kemampuan visual tanpa gangguan untuk menuliskan atau menunjukan cara (langkah) penyelesaian. Jangan memberi soal yang berlebihan; cukup 5-10 soal dengan masalah yang berbeda.

Pada tahun 1950, guru besar psikologi di institut Teknologi California, Roger Sperry menemukan bahwa otak terbagi menjadi dua belahan, yaitu belahan otak kanan dan belahan otak kiri. Setiap belahan otak memiliki spesialisasi dalam kemampuan tertentu, walaupun ada beberapa Persilangan dan interaksi antar kedua belahan. Proses berpikir otak kiri bersifat logis, sekuensial, linear, dan rasional. Sisi ini sangat teratur. Walaupun berdasarkan realitas, ia mampu melakukan penafsiran abstrak dan simbolis. Cara berpikirnya sesuai untuk tugas-tugas teratur, ekspresi verbal, menulis, membaca, asosiasi auditorial, menempatkan detail dan fakta, fonetik, serta simbolisme. Cara berpikir otak kanan bersifat acak, tidak teratur, intuitif dan holistik. Cara bepikirnya sesuai dengan cara untuk mengetahui yang bersifat nonverbal, seperti perasaan dan emosi, kesadaran yang berkenaan dengan perasaan (merasakan kehadiran suatu benda atau orang), kesadaran spasial, pengenalan bentuk dan pola, musik, seni, kepekaan warna, kreatifitas dan visualisasi. Kedua belahan otak tersebut penting untuk dioptimalkan, sehingga adanya keseimbangan fungsi diantara belahan otak kanan dan belahan otak lain.

Pembelajaran dengan otak kanan

Pembelajaran dengan otak kanan membutuhkan teknik. Teknik memberdayakan otak kanan dalam proses pembelajaran menurut Linda V Wiliam (1983) dapat ditempuh melalui teknik berpikir visual, fantasi, bahasa evoratif, pengalaman langsung (eksperimen laboratorium, perjalanan lapangan, manipulasi bahan obyek riil, simulasi maupun bermain peran), pembelajaran multisensoris, dan musik. (Depdiknas, 2004:9).

1. Teknik berpikir visual

Proses pembelajaran akan lebih efektif apabila guru menyampaikan berbagai materi pembelajaran menggunakan gambar (visual). Pembelajar lebih mudah memahami berbagai gagasan yang ditangkap melalu gambar, peta, diagram, bagan, dan pemodelan. Misalnya dalam materi pembelajaran

Misalnya dalam materi bangun ruang diungkapkan melalui model balok, kubus, tabung dan seterusnya. Pemikiran yang diungkapkan dengan gambaran fisik membantu pembelajar mengingat suatu definisi, dari pada membaca dan menghafalkan definisi.

Dalam pendekatan pembelajaran Quantum (Quantum Learning) ada tiga macam modalitas siswa, yaitu modalitas visual, auditorial dan kinestetik. Dengan modalitas visual dimaksudkan bahwa kekuatan belajar siswa terletak pada indera ‘mata’ (membaca teks, grafik atau dengan melihat suatu peristiwa), kekuatan auditorial terletak pada indera ‘pendengaran’ (mendengar dan menyimak penjelasan atau cerita), dan kekuatan kinestetik terletak pada ‘perabaan’ (seperti menunjuk, menyentuh atau melakukan). Jadi, dengan memahami kecenderungan potensi modalitas siswa tersebut, maka seorang guru harus mampu merancang media, metode atau materi pembelajaran kontekstual yang relevan dengan kecenderungan potensi atau modalitas belajar siswa.

2. Teknik fantasi

Fantasi merupakan bentuk lain dari pemikiran visual. Fantasi yaitu kemampuan untuk menghasilkan dan memanipulasi gambaran dalam alam pikiran atau mental. teknik pembelajaran ini digunakan untuk menerjemahkan materi pembelajaran yang disajikan secara verbal menjadi gambaran-gambaran mental. Fantasi membantu untuk memahami fenomena yang tidak dapat dialami sendiri oleh pembelajar. Misalnya pada peristiwa fotosintesis yang terjadi pada tumbuhan. Peserta didik membayangkan dirinya sendiri sebagai sebuah pohon yang sedang mengambil (menghirup) udara (CO2) melalui stomata (mulut daun).

3. Teknik bahasa evokatif,

Bahasa evokatif adalah bahasa yang mampu menggugah rasa. Penggunaan bahasa evokatif dapat menimbulkan lebih dari satu pemahaman, tergantung pada pengalamn subyektif pendengar. Bahasa evokatif akan menggugah rasa jika dibaca secara prosais, sehingga berkesan sensual dan memunculkan lebih dari satu makna. Bahasa evokatif bukan menyatakan tetapi menduga. Misalnya pernyataan “Hatinya seputih salju”, akan menimbulkan gambaran yang sedikit berbeda untuk setiap pendengar. Proses pembelajaran dengan menggunakan bahasa evokatif merupakan pendekatan verbal yang dapat memberdayakan otak kanan. Teknik pembelajaran ini seberapa jauh dapat memainkan peran tergantung kemampuan guru.

4. Teknik pengalaman langsung.

Proses pembelajaran pengalaman langsung dapat memberikan gambaran secara menyeluruh kepada peserta didik. Pembelajaran ini untuk memenuhi pilihan otak kanan akan pola-pola gambaran secara menyeluruh. Teknik pembelajaran pengalaman langsung dapat dilakukan melalui eksperimen di laboratorium, perjalanan lapangan, simulasi, maupun bermain peran. Teknik ini membutuhkan waktu agak lama tetapi mempunyai peran yang besar terhadap pemberdayaan otak kanan, karena pembelajar dapat memunculkan ide-ide kreatif yang memungkinkan dapat membangun intuisi pada dirinya.

5. Teknik multisensoris,

Pembelajaran multisensoris maksudnya adalah teknik pembelajaran yang menggunakan banyak indera. Kita mengenal lima gaya belajar yaitu : visual (penglihatan), auditori (pendengaran), kinestetik (gerakan), olfoktori (penciuman), dan gustatori (pengecapan). Dari kelima gaya belajar ini yang dominan digunakan adalah visual, auditori, dan kinestetik. Proses pembelajaran lebih cepat dipahami siswa jika lebih banyak panca indera yang terlibat dalam pembelajaran. Berarti pendidik harus bisa mengakomondasikan ketiga gaya yang dominan dalam proses pembelajaran. Di sini peran alat bantu dan ketepatan pemilihan metode sangat dibutuhkan.

6. Teknik musik,

Untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan (learning is fun) dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dengan cara belajar sambil mendengarkan musik akustik (musik yang diputar dengan lembut) dapat menimbulkan konsentrasi belajar pembelajar, juga berguna untuk memberdayakan otak kanan.

Penelitian-penelitian membuktikan bahwa musik memberikan banyak manfaat kepada manusia seperti merangsang pikiran, memperbaiki konsenstrasi dan ingatan, meningkatkan aspek kognitif, membangun kecerdasan emosional, dll. Musik juga dapat menyeimbangkan fungsi otak kanan dan otak kiri, yang berarti menyeimbangkan perkembangan aspek intelektual dan emosional. Pembelajar yang mendapat pendidikan musik jika kelak dewasa akan menjadi manusia yang berpikiran logis, sekaligus cerdas, kreatif, dan mampu mengambil keputusan, serta mempunyai empati.

Penelitian menunjukkan bahwa musik dapat memberikan rangsangan-rangsangan yang kaya untuk segala aspek perkembangan secara kognitif dan kecerdasan emosional (EQ). Roger Sperry (1992) dalam Siegel (1999) penemu teori Neuron mengatakan bahwa neuron baru akan menjadi sirkuit jika ada rangsangan musik sehingga neuron yang terpisah-pisah itu bertautan dan mengintegrasikan diri dalam sirkuit otak, sehingga terjadi perpautan antara neuron otak kanan dan otak kiri.

Idealnya seseorang dapat menguasai keterampilan kognitif sekaligus keterampilan sosial emosional. Daniel Goleman (1995) melalui bukunya yang terkenal "Emotional Intelligences (EQ)", memberikan gambaran spectrum kecerdasan, dengan demikian anak akan cakap dalam bidang masing-masing namun juga menjadi amat ahli. Sebagaimana dikatakan oleh para ahli, perkembangan kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh rangsangan musik seperti yang dikatakan Gordon Shaw (1996).

Memaksimalkan fungsi otak kiri dan otak kanan dalam pembelajaran menjadi sangat penting. Artinya, tidak hanya menekankan pada kemampuan otak kiri saja, namun juga mengembangkan kemampuan otak kanan. Memberdayakan otak kanan dalam proses pembelajaran perlu dilakukan dan ditingkatkan intensitasnya. Pemberdayaan otak kanan sangat penting dalam membangun kecerdasan pembelajar. Pembelajar yang cerdas secara intelektual dan emosional mempunyai peluang yang lebih besar dalam memperoleh keberhasilan di sekolah. Oleh karena itu agar proses pendidikan di sekolah dapat berhasil, maka pendidikan hendaknya mengacu pada pembelajaran kedua belahan otak secara seimbang dan menyeluruh.

Daftar Pustaka

Anwar Fuady,M.Ed., Drs. 2008. Paradigma Baru Dalam P endidikan dan Pembelajaran Learning Is Fun.
DePorter, Bobbi dan Mike Hernacki, 1999. Quantum Learning. Bandung : Kaifa

CURRICULUM VITAE

N a m a : Imam Suhadak, S.Pd.

N I P : 19660818 200212 1 004

Pangkat/Golongan : Penata Tk. I, III/d

Tempat/Tanggal lahir : Surabaya, 18 Agustus 1966

Unit Kerja : SMP Negeri 1 Kecamatan Ngrayun

Tugas : Mengajar Matematika

Alamat : a. Rumah

Jl Pandu 12 RT 02/RW 04, Jabung 1, Kec. Mlarak. Ponorogo

b. Sekolah

Desa Baosan Lor, Kec. Ngrayun. Ponorogo

TELP (0352) 391012

Riwayat Pendidikan :

NO

PENDIDIKAN

JURUSAN

LULUS TAHUN

1.

SDN RANGKAH III SURABAYA

-

1977

2.

SMPN 5 SURABAYA

-

1981

3.

SMAN 3 SURABAYA

IPA

1984

4.

IKIP SURABAYA

D3 MATEMATIKA

1987

5.

UNMUH SURABAYA

S1 MATEMATIKA

2002