SELAMAT DATANG DI WWW.MGMPMAPO.BLOGSPOT.COM

Jumat, 11 November 2011

Pembelajaran Berbasis Otak kanan


Pembelajaran Berbasis Otak Kanan

Oleh : Imam Suhadak*)

Sayid Kutub dalam majalah Al-Risalah edisi ke 995 th. 1955 mengungkapkan bahwa “Sesunggunya aku meyakini akan kekuatan ilmu pengetahuan. Dan aku meyakini pula kekuatan hasil kebudayaan. Namun aku juga lebih yakin akan kekuatan buah pendidikan.”

Pendapat tersebut menggambarkan pentingnya proses pendidikan dalam kehidupan manusia. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu elemen dasar dari proses pendidikan. Untuk itu harus direncanakan secara sistematis dan aplikatif. Jika bicara tentang pembelajaran, maka tidak bisa dilepaskan dari peran dan fungsi guru. Pembelajaran yang bermutu dapat terwujud manakala guru mempunyai sejumlah kompetensi. Pendek kata proses pembelajaran adalah kemampuan guru dalam memberdayakan segala elemen yang dapat mempengaruhi perubahan perilaku pembelajar.

Pada kenyataannya pembelajar memiliki pengalaman belajar yang tidak selalu menyenangkan dan menarik. Banyak keluhan, antara lain materinya membosankan, kering, dan pembelajaran hanya di belakang meja, kaku, monoton dan sangat formal. Hal ini bermuara pada sikap dan hasil belajar yang rendah. Bagaimana merancang pembelajaran yang menarik? Ini berkaitan dengan pendekatan atau strategi pembelajaran. Kalau saat ini pembelajar lebih banyak menggunakan belahan otak kiri, apa jadinya kalau mereka memakai kedua belahan otak itu sekaligus? Secara teoritis pembelajar akan memiliki kekuatan otak yang ganda, karena memakai semua kapasitas otak yang dimilikinya.

Proses pembelajaran secara berlatih (drill), mengulang-ulang (repetisi), dan ujian dengan waktu yang terbatas, hanya cocok untuk individu dengan otak kiri. Karena pola belajar pada otak kanan adalah visual, maka ilustrasikan konsep matematika secara visual, semisal menghitung uang, menggunakan sempoa, mendemontrasikan bangun ruang. Kekuatan individu ini terdapat pada intuisi matematika, sedangkan perhitungan aritmatika yang sederhana merupakan sisi kelemahannya. Proses pembelajaran dengan menarik minat mereka melalui konsep matematika yang kompleks misalnya bilangan negatif, kuadrat, akar, sebelum akhirnya diperkenalkan pada konsep dasar yaitu penjumlahan, pembagian sederhana, dan perkalian. Kegiatan tersebut dapat berupa menghitung volume air yang ada di botol, mengetahui berapa lama kereta api dapat menempuh jarak Surabaya-Jakarta bila kecepatannya tertentu, kegiatan jual-beli dengan mengajarkan konsep harga satuan, diskon, pengurangan, penjumlahan, pembagian dan perkalian. Setelah dapat memahami proses perhitungan sederhana dan persamaan, dengan mudah akan dapat memahami sesuatu yang lebih abstrak dan konsep yang sulit (misalnya geometri, kalkulus). Proses berpikirnya visual; hindari anak disuruh menulis, tidak perlu menghitung dengan jari, dalam suasana relax, tidak ada tekanan karena pembatasan waktu, lakukan latihan mental matematika yang melibatkan keberuntunan secara auditori dan konsep matematika. Dengan cara ini akan memotong daerah kelemahan anak (proses dengar) dan merubahnya menjadi kekuatan menggunakan kemampuan visualnya. Latihan mental matematika ini juga memanfaatkan kemampuan visual tanpa gangguan untuk menuliskan atau menunjukan cara (langkah) penyelesaian. Jangan memberi soal yang berlebihan; cukup 5-10 soal dengan masalah yang berbeda.

Pada tahun 1950, guru besar psikologi di institut Teknologi California, Roger Sperry menemukan bahwa otak terbagi menjadi dua belahan, yaitu belahan otak kanan dan belahan otak kiri. Setiap belahan otak memiliki spesialisasi dalam kemampuan tertentu, walaupun ada beberapa Persilangan dan interaksi antar kedua belahan. Proses berpikir otak kiri bersifat logis, sekuensial, linear, dan rasional. Sisi ini sangat teratur. Walaupun berdasarkan realitas, ia mampu melakukan penafsiran abstrak dan simbolis. Cara berpikirnya sesuai untuk tugas-tugas teratur, ekspresi verbal, menulis, membaca, asosiasi auditorial, menempatkan detail dan fakta, fonetik, serta simbolisme. Cara berpikir otak kanan bersifat acak, tidak teratur, intuitif dan holistik. Cara bepikirnya sesuai dengan cara untuk mengetahui yang bersifat nonverbal, seperti perasaan dan emosi, kesadaran yang berkenaan dengan perasaan (merasakan kehadiran suatu benda atau orang), kesadaran spasial, pengenalan bentuk dan pola, musik, seni, kepekaan warna, kreatifitas dan visualisasi. Kedua belahan otak tersebut penting untuk dioptimalkan, sehingga adanya keseimbangan fungsi diantara belahan otak kanan dan belahan otak lain.

Pembelajaran dengan otak kanan

Pembelajaran dengan otak kanan membutuhkan teknik. Teknik memberdayakan otak kanan dalam proses pembelajaran menurut Linda V Wiliam (1983) dapat ditempuh melalui teknik berpikir visual, fantasi, bahasa evoratif, pengalaman langsung (eksperimen laboratorium, perjalanan lapangan, manipulasi bahan obyek riil, simulasi maupun bermain peran), pembelajaran multisensoris, dan musik. (Depdiknas, 2004:9).

1. Teknik berpikir visual

Proses pembelajaran akan lebih efektif apabila guru menyampaikan berbagai materi pembelajaran menggunakan gambar (visual). Pembelajar lebih mudah memahami berbagai gagasan yang ditangkap melalu gambar, peta, diagram, bagan, dan pemodelan. Misalnya dalam materi pembelajaran

Misalnya dalam materi bangun ruang diungkapkan melalui model balok, kubus, tabung dan seterusnya. Pemikiran yang diungkapkan dengan gambaran fisik membantu pembelajar mengingat suatu definisi, dari pada membaca dan menghafalkan definisi.

Dalam pendekatan pembelajaran Quantum (Quantum Learning) ada tiga macam modalitas siswa, yaitu modalitas visual, auditorial dan kinestetik. Dengan modalitas visual dimaksudkan bahwa kekuatan belajar siswa terletak pada indera ‘mata’ (membaca teks, grafik atau dengan melihat suatu peristiwa), kekuatan auditorial terletak pada indera ‘pendengaran’ (mendengar dan menyimak penjelasan atau cerita), dan kekuatan kinestetik terletak pada ‘perabaan’ (seperti menunjuk, menyentuh atau melakukan). Jadi, dengan memahami kecenderungan potensi modalitas siswa tersebut, maka seorang guru harus mampu merancang media, metode atau materi pembelajaran kontekstual yang relevan dengan kecenderungan potensi atau modalitas belajar siswa.

2. Teknik fantasi

Fantasi merupakan bentuk lain dari pemikiran visual. Fantasi yaitu kemampuan untuk menghasilkan dan memanipulasi gambaran dalam alam pikiran atau mental. teknik pembelajaran ini digunakan untuk menerjemahkan materi pembelajaran yang disajikan secara verbal menjadi gambaran-gambaran mental. Fantasi membantu untuk memahami fenomena yang tidak dapat dialami sendiri oleh pembelajar. Misalnya pada peristiwa fotosintesis yang terjadi pada tumbuhan. Peserta didik membayangkan dirinya sendiri sebagai sebuah pohon yang sedang mengambil (menghirup) udara (CO2) melalui stomata (mulut daun).

3. Teknik bahasa evokatif,

Bahasa evokatif adalah bahasa yang mampu menggugah rasa. Penggunaan bahasa evokatif dapat menimbulkan lebih dari satu pemahaman, tergantung pada pengalamn subyektif pendengar. Bahasa evokatif akan menggugah rasa jika dibaca secara prosais, sehingga berkesan sensual dan memunculkan lebih dari satu makna. Bahasa evokatif bukan menyatakan tetapi menduga. Misalnya pernyataan “Hatinya seputih salju”, akan menimbulkan gambaran yang sedikit berbeda untuk setiap pendengar. Proses pembelajaran dengan menggunakan bahasa evokatif merupakan pendekatan verbal yang dapat memberdayakan otak kanan. Teknik pembelajaran ini seberapa jauh dapat memainkan peran tergantung kemampuan guru.

4. Teknik pengalaman langsung.

Proses pembelajaran pengalaman langsung dapat memberikan gambaran secara menyeluruh kepada peserta didik. Pembelajaran ini untuk memenuhi pilihan otak kanan akan pola-pola gambaran secara menyeluruh. Teknik pembelajaran pengalaman langsung dapat dilakukan melalui eksperimen di laboratorium, perjalanan lapangan, simulasi, maupun bermain peran. Teknik ini membutuhkan waktu agak lama tetapi mempunyai peran yang besar terhadap pemberdayaan otak kanan, karena pembelajar dapat memunculkan ide-ide kreatif yang memungkinkan dapat membangun intuisi pada dirinya.

5. Teknik multisensoris,

Pembelajaran multisensoris maksudnya adalah teknik pembelajaran yang menggunakan banyak indera. Kita mengenal lima gaya belajar yaitu : visual (penglihatan), auditori (pendengaran), kinestetik (gerakan), olfoktori (penciuman), dan gustatori (pengecapan). Dari kelima gaya belajar ini yang dominan digunakan adalah visual, auditori, dan kinestetik. Proses pembelajaran lebih cepat dipahami siswa jika lebih banyak panca indera yang terlibat dalam pembelajaran. Berarti pendidik harus bisa mengakomondasikan ketiga gaya yang dominan dalam proses pembelajaran. Di sini peran alat bantu dan ketepatan pemilihan metode sangat dibutuhkan.

6. Teknik musik,

Untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan (learning is fun) dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dengan cara belajar sambil mendengarkan musik akustik (musik yang diputar dengan lembut) dapat menimbulkan konsentrasi belajar pembelajar, juga berguna untuk memberdayakan otak kanan.

Penelitian-penelitian membuktikan bahwa musik memberikan banyak manfaat kepada manusia seperti merangsang pikiran, memperbaiki konsenstrasi dan ingatan, meningkatkan aspek kognitif, membangun kecerdasan emosional, dll. Musik juga dapat menyeimbangkan fungsi otak kanan dan otak kiri, yang berarti menyeimbangkan perkembangan aspek intelektual dan emosional. Pembelajar yang mendapat pendidikan musik jika kelak dewasa akan menjadi manusia yang berpikiran logis, sekaligus cerdas, kreatif, dan mampu mengambil keputusan, serta mempunyai empati.

Penelitian menunjukkan bahwa musik dapat memberikan rangsangan-rangsangan yang kaya untuk segala aspek perkembangan secara kognitif dan kecerdasan emosional (EQ). Roger Sperry (1992) dalam Siegel (1999) penemu teori Neuron mengatakan bahwa neuron baru akan menjadi sirkuit jika ada rangsangan musik sehingga neuron yang terpisah-pisah itu bertautan dan mengintegrasikan diri dalam sirkuit otak, sehingga terjadi perpautan antara neuron otak kanan dan otak kiri.

Idealnya seseorang dapat menguasai keterampilan kognitif sekaligus keterampilan sosial emosional. Daniel Goleman (1995) melalui bukunya yang terkenal "Emotional Intelligences (EQ)", memberikan gambaran spectrum kecerdasan, dengan demikian anak akan cakap dalam bidang masing-masing namun juga menjadi amat ahli. Sebagaimana dikatakan oleh para ahli, perkembangan kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh rangsangan musik seperti yang dikatakan Gordon Shaw (1996).

Memaksimalkan fungsi otak kiri dan otak kanan dalam pembelajaran menjadi sangat penting. Artinya, tidak hanya menekankan pada kemampuan otak kiri saja, namun juga mengembangkan kemampuan otak kanan. Memberdayakan otak kanan dalam proses pembelajaran perlu dilakukan dan ditingkatkan intensitasnya. Pemberdayaan otak kanan sangat penting dalam membangun kecerdasan pembelajar. Pembelajar yang cerdas secara intelektual dan emosional mempunyai peluang yang lebih besar dalam memperoleh keberhasilan di sekolah. Oleh karena itu agar proses pendidikan di sekolah dapat berhasil, maka pendidikan hendaknya mengacu pada pembelajaran kedua belahan otak secara seimbang dan menyeluruh.

Daftar Pustaka

Anwar Fuady,M.Ed., Drs. 2008. Paradigma Baru Dalam P endidikan dan Pembelajaran Learning Is Fun.
DePorter, Bobbi dan Mike Hernacki, 1999. Quantum Learning. Bandung : Kaifa

CURRICULUM VITAE

N a m a : Imam Suhadak, S.Pd.

N I P : 19660818 200212 1 004

Pangkat/Golongan : Penata Tk. I, III/d

Tempat/Tanggal lahir : Surabaya, 18 Agustus 1966

Unit Kerja : SMP Negeri 1 Kecamatan Ngrayun

Tugas : Mengajar Matematika

Alamat : a. Rumah

Jl Pandu 12 RT 02/RW 04, Jabung 1, Kec. Mlarak. Ponorogo

b. Sekolah

Desa Baosan Lor, Kec. Ngrayun. Ponorogo

TELP (0352) 391012

Riwayat Pendidikan :

NO

PENDIDIKAN

JURUSAN

LULUS TAHUN

1.

SDN RANGKAH III SURABAYA

-

1977

2.

SMPN 5 SURABAYA

-

1981

3.

SMAN 3 SURABAYA

IPA

1984

4.

IKIP SURABAYA

D3 MATEMATIKA

1987

5.

UNMUH SURABAYA

S1 MATEMATIKA

2002

Tidak ada komentar:

Posting Komentar